Senin, 06 Mei 2013

Cincau


Selama ini orang mengenal cincau hanya sebatas untuk minuman saja. Tetapi, apakah Anda tahu jika cincau punya banyak manfaat?
Kalau yang terlihat di pasaran mayoritas cincau hitam, berbeda halnya dengan cincau hijau.  Memang, dari sisi daya tahan, cincau hitam lebih tahan lama ketimbang cincau hijau. Proses pembuatan keduanya pun tidak serumit yang dibayangkan.
Menurut HYPERLINK “http://id.wikipedia.org/wiki/Profesor”Profesor C.G.G.J. van Steenis, yang dikenal sebagai penulis buku ajar tentang tumbuhan berjudul Flora untuk Sekolah di Indonesia dikatakan, bahwa cincau merupakan tumbuhan merambat dengan diameter batang sekitar satu sentimeter. Tumbuhan itu dikenal juga sebagai tumbuhan merambat yang melingkar ke arah kanan. Memiliki ketinggian lebih kurang lima hingga enam belas meter.

Di Asia Tenggara, tananaman itu punya nama latin Cyclea barbata L. Miers, HYPERLINK  “http://id.wikipedia.org/wiki/Mesona”Mesona spp., atau Premna oblongifora, dan masuk dalam famili Menispermaceae atau sirawanan. Orang-orang di tanah Sunda menyebutnya dengan nama tanaman Tarawulu, Trewulu, atau Camcauh.

Masyarakat kita mengenal empat jenis cincau, yaitu cincau hijau, hitam, minyak, dan perdu. Secara morfologi (bentuk fisik pohon) keempatnya memiliki perbedaan. Akan tetapi, masyarakat kita sangat menggemari cincau hijau dan hitam. Cincau hijau digemari karena memiliki daun tipis dan lemas. Oleh karena itu, daun mudah diremas untuk dibuat gel atau agar-agar. Selain itu, aroma cincau pun tidak berbau langu.

Jika diamati secara saksama, daun cincau berbentuk perisai berwarna hijau.  Di bagian pangkalnya membentuk lekukan. Sementara, di bagian tengahnya melebar dan meruncing di bagian ujungnya. Di bagian tepi-tepi daunnya berombak dengan bagian bawah daun memiliki bulu-bulu halus. Jika bagian atas daun dipegang, terasa agak kasar dan berbulu jarang.

Kita sering menjumpai tanaman cincau tumbuh liar. Akan tetapi, ada juga yang dibudidayakan di sekitar halaman rumah. Cincau tumbuh subur pada daerah dataran rendah dengan ketinggian 700 hingga 900 meter di atas permukaan laut.  Faktor yang mendukung tumbuhan itu cepat tumbuh antara lain, kadar keasaman tanah 5,5 hingga 6,5 dengan lingkungan teduh. Kelembapan dan berair tanah dangkal menjadi tempat tumbuh suburnya tanaman cincau.

Tanaman cincau dapat diperbanyak melalui cara generatif, yaitu dengan biji. Sementara, perkembangbiakan secara vegetatif dapat dilakukan melalui stek batang. Jika dengan biji memang perlu waktu relatif lama, lebih kurang tiga bulan. Sementara, kelemahan vegetatif  akan merusak batang,  ranting, maupun akar tanaman. Kerusakan itu justru akan memengaruhi produksi daun cincau.
Sejauh ini, untuk pemanenannya sendiri diambil dari daun yang tidak terlalu tua. Kita juga harus memerhatikan keadaan tanaman, apakah sedang berdaun lebat atau tanaman dalam keadaan kurus. Jika daun cincau rimbun dan tumbuh subur, daun pun dapat dipanen. Sementara, jika tampak mengurus dan kurang sehat, pemetikan daun justru akan merusak tanaman itu.
Dalam ilmu obat atau farmakologi Cina dan pengobatan tradisional, cincau Berguna sebagai obat antideman, antiracun, bahkan menurunkan tekanan darah. Pemanfaatan biasanya dengan mengambil rimpang dan daun. Jika kita mencicipi getah cincau, berasa agak manis dan dingin. Khasiatnya sendiri ada pada unsur kimia yang terkandung di dalamnya.
Sejauh ini, masyarakat kita mengonsumsi cincau hanya sebatas untuk minuman penyegar saja. Itupun disajikan dalam bentuk dingin. Tak terpikirkan mungkin, apa khasiat dan manfaat di balik cincau tersebut. Seiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, khasiat tanaman cincau mulai terkuak.

Dari beberapa penelitian menyebutkan, bahwa tanaman itu mampu menyembuhkan beberapa macam penyakit. Seperti panas dalam tekanan darah tinggi, gangguan nyeri di perut, keracunan makanan laut, panas dalam, keputihan, obat sakit perut, bahkan kanker.

Berdasarkan riset yang dilakukan dua universitas ternama di Indonesia, yaitu IPB dan UI, memeroleh hasil dari tanaman cincau. Dalam cincau hijau terdapat aktivitas anti-oksidan yang dapat membunuh sel kanker. Disebutkan pula oleh salah seorang peneliti dari IPB, Fransiska R Zakaria, bahwa jika mencit diberikan ekstrak cincau hijau, hal itu mampu meningkatkan nekrosis atau kematian sel tumornya secara signifikan. Artinya, cincau hijau punya komponen bioaktif yang mampu membunuh sel kanker.

Para peneliti juga melihat efek cincau hijau terhadap enzim-enzim fase satu dan dua. Ezim itu punya peran untuk detoksifikasi atau mengeluarkan senyawa kimia yang tidak dibutuhkan tubuh, seperti bahan aditif makanan, polutan, obat, dan lain-lain.

Dalam proses detoksifikasi, enzim mono-oksigenase atau fase satu bertugas mengoksidasi dan menghasilkan radikal bebas. Selanjutnya, zat-zat tersebut dinetralkan oleh enzim fase dua atau enzim konjugasi menjadi bagian yang dapat larut dalam air yang dikeluarkan melalui urin. Hal itu berarti, pemberian ekstrak cincau hijau tidak meningkatkan aktivitas enzim fase satu, justru sebaliknya meningkatkan aktivitas enzim fase dua. Perlu ditekankan, cincau hijau mampu menyingkirkan senyawa-senyawa berbahaya untuk tubuh, termasuk pemicu kanker.
Akan tetapi, zat yang punya khasiat anti-oksidan dan anti-kanker dalam cincau hijau belum diisolasi. Menurut Fransiska, untuk ekstrak murni dan isolasi zat aktif perlu waktu lama dan biaya mahal. Sementara, prioritas Fransiska dan para peneliti lainnya mendapatkan makanan fungsional, yaitu bahan makanan yang punya khasiat untuk kesehatan, bukan obat.
Penelitian Fransiska, dkk., memang mencari bahan makanan lezat, sehat, mudah diperoleh, dapat membantu menurunkan risiko kanker terhadap orang sehat dan bermanfaat untuk penderita kanker dalam menurunkan penyakit. Hal itu dilakukan melalui cara menekan stres oksidatif juga mematikan sel kanker.

Selama ini, pasien kanker kesulitan memeroleh makanan yang tepat. Itu dikarenakan alih-alih memperkuat pertahanan tubuh, makanan yang baik untuk orang sehat terkadang justru membuat sel kanker tumbuh subur menguasai tubuh pasien. Sebaliknya, makanan atau obat yang bisa mematikan sel kanker juga membunuh sel sehat.
Dari hasil riset itu diperoleh, cincau hijau aman untuk sel sehat sekaligus mampu mematikan sel tumor. Untuk makanan atau minuman, cincau hijau sangat sesuai. Itu dikarenakan rasanya segar, cita rasanya tidak menyengat (mild). Dapat diterima oleh kebanyakan orang dan orang sakit, karena tidak membuat rasa mual maupun muntah.

Cincau dikonsumsi dari ekstrak daun. Penelitian menunjukkan, daun cicau hijau mengandung karbohidrat, polifenol, saponin, flavonoid, maupun lemak. Selain itu, didapati juga kalsium, fosfor, serta vitamin A dan B. Dari kandungan itu memungkinkan, kita dapat menggunakan cincau hijau sebagai obat, selain sebagai minuman penyegar. Untuk Anda yang menderita radang lambung, deman, atau darah tinggi, dapat mencoba gel cincau hijau.

Selain daun, akar cincau hijaupun tak kalah penting. Akar dapat digunakan untuk mengobati deman dan sakit perut. Itu dikarenakan, dalam akar cincau terdapat pati, lemak, aslkaloid siklein yang berasa pahit.
Pada 1966 pernah dilakukan riset terhadap cincau untuk mengobati hipertensi. Penelitian itu dilakukan oleh Fakultas Kedokteran UGM. Dari hasil itu diperoleh, pasien hipertensi yang diberikan ekstrak daun cincau hijau mengalami penurunan tekanan darah secara signifikan. Keluhan pusing, lelah, sempoyongan, juga berat badan turun.

Direktorat Gizi Depkes pun meneliti tentang cincau hijau. Terungkap, ada 6,23 gram  per 100 gram kandungan serat kasar dalam gel cincau. Artinya, jika cincau dikonsumsi bersama buah dan sayur untuk makan sehari-hari, hal itu dapat memenuhi kebutuhan serat harian 30 gram, sehingga dapat membantu memerangi penyakit degeneratif, seperti jantung koroner.
Di dalam cincau juga terdapat 122 kalori dan 6 gram protein. Dari serat yang tinggi itu, Okky Asokawati, mantan peragawati tenar mengonsumsi satu gelas cincau tiap malam. Dia merasakan sendiri manfaatnya. Badan menjadi sehat dan ke belakang pun menjadi lancar. [Jun]