Selasa, 08 November 2016

Makalah Implementas Pendidikan Karakter


A.                Latar Belakang

Perkembangan global dan perkembangan iptek khususnya di bidang teknologi informasi yang begitu cepat telah menimbulkan banyak dampak bagi masyarakat indonesia. Terutama internet, baik itu bagi masyarakat umum ataupun bagi dunia pendidikan. Internet dalam dunia pendidikan telah menghasilkan sebuah sistem pembelajaran jarak jauh. Dengan sistem ini maka seorang pelajar tidak perlu lagi pergi kesekolah seperti layaknya sekolah formal. Namun cukup meluangkan waktunya untuk bertatap muka dengan dosen atau guru lewat monitor komputer. Demikian juga pelajar tidak hanya memperoleh informasi tentang pengetahuan melalui buku perpustakaan bahkan harus pergi ke perpustakaan untuk  memperoleh pengetahuan, namun cukup ada di depan monitor,  pengetahuan yang akan dicari sudah tersedia. Bahkan seorang guru akan dengan mudah mencari bahan ajar yang sesuai dengan bidangnya dan juga seorang siswa dapat mendalami ilmu pengetahuan yang didapatkan dengan didukung kemampuan untuk mencari informasi tambahan diluar yang diajarkan oleh guru. Bahkan dalam lingkup pendidikan, sudah saatnya dibentuk suatu jaringan informasi yang memanfaatkan teknologi informasi ini. Dengan demikian terdapat suatu jaringan terhubung antar sekolah sebagai pertukaran data dan informasi secara cepat, akurat dan tentunya murah dalam segala bidang. Penyebaran ide maupun metode pembelajaran dalam proses pembelajaran yang lebih tepat pun akan lebih mudah sampai kepelosok daerah yang selama ini mengalami kesulitan untuk menerima informasi terkini.
Dampak positif tak serta merta berdiri tegak tanpa ada halangan suatu apapun, masih lebih banyak dampak negatif yang timbul akibat penggunaan teknologi yang kurang bijak, yang kebanyakan hal itu dilakukan oleh generasi muda kita sekarang. Hal itu banyak menimbulkan banyak masalah yang ada seperti berkurangnya moralitas, akhlak mulia, kejujuran, kedisiplinan, rasa hormat dan empati yang merambah kedunia pendidikan. Atas dasar hal itulah kini banyak pihak yang mendorong untuk mengoptimalkan kembali pengembangan karakter di pendidikan tinggi.
Di Indonesia, pendidikan karakter bangsa kembali menjadi topik hangat sejak 2010. Pembangunan budaya dan karakter bangsa dicanangkan oleh Pemerintah dengan diawali ‘Deklarasi Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa’ sebagai gerakan nasional pada Januari 2010. Hal ini ditegaskan ulang dalam Pidato Presiden pada peringatan Hari Pendidikan Nasional, 2 Mei 2010. Sejak itu, pendidikan karakter menjadi perbincangan di tingkat nasional. Munculnya Deklarasi tersebut disinyalir akibat kondisi bangsa kita yang menunjukkan perilaku antibudaya dan antikarakter (Marzuki, 2013). Perilaku antibudaya bangsa tercermin di antaranya dari memudarnya sikap kebinekaan dan kegotong-royongan bangsa Indonesia, di samping kuatnya pengaruh budaya asing di tengah-tengah masyarakat. Adapun perilaku antikarakter bangsa di antaranya ditunjukkan oleh hilangnya nilai-nilai luhur yang melekat pada bangsa Indonesia, seperti kejujuran, kesantunan, dan kebersamaan, serta ditandai dengan munculnya berbagai kasus kriminal (Marzuki, 2013).
Khusus untuk pendidikan tinggi, desain pendidikan tinggi yang terkait dengan pendidikan karakter sangat penting. Pendidikan karakter wajib ada di dalam kerangka dasar semua unsur pendidikan di perguruan tinggi. Hal itu dikarenakan pendidikan karakter adalah landasan bagi budaya akademik, karena ilmu pada prinsipnya dapat kita pandang dalam perspektif moral dan sosial, sehingga akan terkait langsung dengan perspektif kehidupan berbangsa dan bernegara.
Penjabaran lebih luas,pemahaman dan implementasi dari empat pilar yang mencakup nilai-nilai luhur Pancasila, UUD 45, Negara Kesatuan Republik Indonesia dan Bhineka Tunggal Ika. Kesemuanya itu, jika diamalkan, wujudnya adalah perilaku yang baik dengan karakter moral bangsa Indonesia. Secara umum nilai-nilai luhur keempat pilar wajib melandasi proses pendidikan menuju perilaku berkarakter. Implementasinya dengan cara olah pikir, olah hati, olah rasa/karsa, dan olahraga.


B.                 Rumusan Masalah
Bagaimana implementasi pendidikan karakter di perguruan tinggi?





C.                 Pembahasan
                      i.            Pendidikan Karakter
      Secara etimologis, kata karakter berasal dari bahasa inggis, character, yang berarti watak atau sifat. Karakter adalah nilai-nilai yang khas, baik watak, akhlak atau kepribadian seseorang yang terbentuk dari hasil internalisasi berbagai kebijakan yang diyakini dan dipergunakan sebagai cara pandang, berpikir, bersikap, berucap dan bertingkah laku dalam kehidupan sehari-hari. Orang berkarakter berarti orang yang berkepribadian, berperilaku, bersifat, bertabiat, atau berwatak. Dengan makna seperti itu berarti karakter identik dengan kepribadian atau akhlak. Kepribadian merupakan ciri, karakteristik, atau sifat khas diri seseorang yang bersumber dari bentukan-bentukan yang diterima dari lingkungan, misalnya keluarga pada masa kecil dan bawaan sejak lahir (Koesoema, 2007). Karakter  merupakan  nilai-nilai  yang terpatri  dalam  diri  individu  melalui  pendidikan,  pengalaman,  pengorbanan,  dan  pengaruh  lingkungan  yang  dipadukan  dengan  nilai-nilai  dari  dalam  diri  manusia yang  menjadi  semacam  nilai-nilai  intrinsik yang  terwujud  dalam  sistem  daya  juang yang  melandasi  pemikiran,  sikap  dan  perilakunya. Karakter  tidak  datang  dengan  sendirinya,  tetapi  dibentuk  dan  dibangun  secara sadar  dan  sengaja,  berdasarkan  jati  diri masing-masing  (Soedarsono,  2008).
Pendidikan karakter adalah pemberian pandangan mengenai berbagai jenis nilai hidup, seperti kejujuran, kecerdasan, kepedulian, tanggung jawab, kebenaran, keindahan, kebaikan, dan keimanan. Pendidikan karakter akan menunjukkan jati dirinya sebagai manusia yang sadar diri sebagai makhluk, manusia, warga negara, dan pria atau wanita. Karakter seseorang merupakan ukuran martabat dirinya sehingga berpikir obyektif, terbuka, kritis, serta memiliki harga diri yang tidak mudah diperjualbelikan.
Dewasa ini nilai pendidikan karakter  dapat diuraikan menjadi beberapa butir, antara lain seperti berikut :
ü  Religius
Merupakan suatu sikap dan perilaku yang patuh dalam melaksanakan ajaran agama yang dianutnya, toleran terhadap pelaksanaan ibadah agama lain, serta hidup rukun dengan pemeluk agama lain.
ü  Jujur
Adalah perilaku yang didasarkan pada kebenaran, menghindari perilaku yang salah, serta menjadikan dirinya menjadi orang yang selalu dipercaya dalam perkataan, tindakan dan pekerjaan.
ü  Toleransi
Suatu tindakan dan sikap yang menghargai pendapat, sikap dan tindakan orang lain yang berbeda pendapat, sikap dan tindakan dengan dirinya.
ü  Disiplin
Suatu tindakan tertib dan patuh pada berbagai ketentuan dan peraturan yang harus dilaksanakannya.
ü  Kerja keras
Suatu upaya yang diperlihatkan untuk selalu menggunakan waktu yang tersedia untuk suatu pekerjaan dengan sebaik-baiknyasehingga pekerjaan yang dilakukan selesai pada waktunya.
ü  Kreatif
Berpikir untuk menghasilkan suatu cara atau produk barudari apa yang telah dimilikinya.
ü  Mandiri
Kemampuan melakukan pekerjaan sendiri dengan kemampuan yang telah dimilikinya
ü  Demokratis
Sikap dan tindakan yang menilai tinggi hak dan kewajiban dirinya dan orang lain dalam kedudukan yang sama
ü  Rasa ingin tahu
Suatu sikap dan tindakan yang selalu berupaya untuk mengetahui apa yang dipelajarinya secara lebih mendalam dan meluas dalam berbagai aspek terkait.
ü  Semangat kebangsaan
Suatu cara berfikir, bertindak, dan wawasan yang menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan diri dan kelompoknya.
ü  Cinta tanah air
Suatu sikap yang menunjukkan kesetiaan, kepedulian dan penghargaan yang tinggi terhadap lingkungan fisik, sosial, budaya, ekonomi dan politik bangsanya.

ü  Menghargai prestasi
Suatu sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat dan mengakui serta menghormati keberhasilan orang lain.
ü  Bersahabat/komunikatif
Suatu tindakan yang memperlihatkan rasa senang beerbicara, bergaul dan bekerjasama dengan orang lain.
ü  Cinta damai
Suatu sikap dan tindakan yang selalu menyebabkan orang lain senang dan dirinya diterima dengan baik oleh orang lain, masyarakat dan bangsa.
ü  Senang membaca
Suatu kebiasaan yang selalu menyediakan waktu untuk membaca bahan bacaan yang memberikan kebajikan bagi dirinya.
ü  Peduli sosial
Suatu sikap dan tindakan yang selalu ingin memberikan bantuan untuk membantu orang lain dan masyarakat dalam meringankan kesulitan yang mereka hadapi.
ü  Peduli lingkungan
Suatu sikap dan tindakan yang selalu berupaya mencegah kerusakan pada lingkungan alam disekitarnya dan mengembangkan upaya-upaya untuk memperbaiki kerusakan alam yang sudah terjadi.
ü  Tanggung jawab
Sikap dan perilaku seseorang untuk melaksanakan tugas dan kewajiban yang seharusnyadia lakukan terhadap diri sendiri, masyarakat, lingkungan (alam, sosial dan budaya), negara dan Tuhan Yang Maha Esa.

                    ii.            Pendidikan Tinggi
Perguruan tinggi adalah satuan pendidikan penyelenggara pendidikan tinggi. Peserta didik perguruan tinggi disebut mahasiswa, sedangkan tenaga pendidik perguruan tinggi disebut dosen. Menurut jenisnya, perguruan tinggi dibagi menjadi dua:
ü  Perguruan tinggi negeri adalah perguruan tinggi yang diselenggarakan oleh pemerintah.
ü  Perguruan tinggi swasta adalah perguruan tinggi yang diselenggarakan oleh pihak swasta. (wikipedia2016)
Di Indonesia, perguruan tinggi negeri dikelola oleh Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia. Rektor perguruan tinggi negeri merupakan pejabat setingkat eselon 2 di bawah Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia ataupun kementerian lainnya.

                  iii.            Implementasi Pendidikan Karakter
Dunia pendidikan memiliki tanggung jawab yang besar terhadap perkembangan generasi muda serta munculnya perilaku destruktif, anarkis, dan radikalis. Atas dasar itu, semua pemangku kepentingan pendidikan harus memberikan perhatian serta pendampingan lebih besar kepada peserta didik dalam membentuk pola pikir dan perilaku yang dibenarkan oleh peraturan dan perundangan. Tenaga pendidik memiliki peranan yang cukup besar dalam membentuk karakter anak didiknya.
Adalah pendapat yang salah jika para pendidik menghentikan pendidikan karakter pada jenjang sekolah menengah atas. Tidak sedikit mahasiswa yang memiliki tingkat kepercayaan diri yang rendah serta ingin mencari jati diri, namun justru malah terjerumus pada hal-hal negatif. Tingginya tingkat kepercayaan dosen kepada mahasiswa untuk bisa mengurus dirinya sendiri seringkali disalahgunakan. Dua hal pokok tersebut cukup menjadikan alasan perlunya bimbingan dosen kepada mahasiswa. Pendidikan karakter mendesak diterapkan hingga ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi untuk memantapkan mental generasi penerus bangsa agar memiliki karakter yang baik serta jiwa patriotisme dan nasionalisme yang tinggi.
Perguruan tinggi adalah satuan pendidikan penyelenggara pendidikan tinggi yang berkewajiban untuk ikut andil dalam pembentukan karakter bangsa. Tenaga pendidik perguruan tinggi adalah pendidik professional dan ilmuwan dengan tugas utama mentransformasikan, mengembangkan dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni melalui pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat (Tri Darma Perguruan Tinggi). Tenaga pendidik perguruan tinggi secara professional memiliki fungsi sebagai pengajar, pendidik dan pelatih sehingga dapat mengembangkan aspek kognitif, afektif dan psikomotorik peserta didik. Hal tersebut menjadi pintu masuk bagi pendidikan karakter untuk dapat diterapkan ditingkat perguruan tinggi di Indonesia.
Program pengembangan mahasiswa pada dasarnya merupakan kegiatan ekstra-kurikuler sebagai penunjang kurikuler, yang dirancang sedemikan rupa agar menjadi program yang terintegrasi. Pendekatan yang digunakan adalah berproses, terpadu dan kontinyu. Ranah pembinaan kegiatan kemahasiswaan di perguruan tinggi biasanya terbagai ke dalam pembinaan 1) penalaran, keilmuan dan keprofesian; 2) minat, bakat dan kegemaran; 3) organisasi mahasiswa; 4) sosial kemasyarakatan. Masing-masing ranah memiliki tujuan, seperti menanamkan sikap ilmiah dan profesionalisme; mengaktualisasikan minat dan kegemaran serta bakat untuk menunjang perkembangan jasmani dan rohani; mengembangkan organisasi kemahasiswaan di lingkungan perguruan tinggi; mengaktualisasikan hasrat dan kepekaan sosial untuk berinteraksi dengan masyarakat.

D.                Kesimpulan
Pendidikan pengembangan karakter adalah sebuah proses berkelanjutan dan tidak pernah berakhir. Oleh karena itu, seperti tercantum pada Kebijakan Nasional Pengembangan Karakter, untuk mencapai karakter bangsa yang diharapkan, diperlukan individu-individu yang berkarakter yang terus-menurus perlu dikembangkan. Dalam membangun karakter bangsa diperlukan upaya serius membangun karakter individu. Secara psikologis karakter individu dimaknai sebagai hasil keterpaduan olah hati, olah pikir, olah raga, olah rasa dan karsa. Olah hati berkenaan dengan perasaan sikap dan keyakinan/keimanan. Olah pikir berkenaan dengan proses nalar, guna mencari dan menggunakan pengetahuan secara kritis, kreatif, dan inovatif. Olah raga berkenaan dengan proses persepsi, kesiapan, peniruan, manipulasi, dan penciptaan aktivitas baru disertai sportivitas. Olah rasa dan karsa berkenaan dengan kemauan dan kreativitas yang tecermin dalam kepedulian, pencitraan, dan penciptaan kebaruan.




Daftar Pustaka

Koesoema, D.A. 2007. Pendidikan Karakter: Strategi Mendidik Anak di Zaman Global. Grasindo. Jakarta.
Marzuki. 2013. Revitalisasi Pendidikan Agama di Sekolah dalam Pembangunan Karakter Bangsa di Masa Depan. Jurnal Pendidikan Karakter. 3 (1): 64-76.
Soedarsono,  Soemarsono.  2008.  Karakter Mengantar  Bangsa:  dari  Gelap  Menuju Terang.  Jakarta:  Elex  Media  Komputindo.
Perguruan tinggi. (https://id.wikipedia.org/wiki/Perguruan_tinggi.html) diunduh  pada kamis 20 oktober 2016 pukul 19:30 WIB